Perbanyakkan amalan di bulan yang mulia ini...
 

Rabu, 25 Juli 2012

Puasa Ramadhan Mengikis Budaya Malas

0 komentar
Seorang anak membaca Alquran dalam kegiatan khataman secara massal menyambut Ramadhan di Lapangan Tugu Proklamasi, Jakarta, Kamis (19/7). (Aditya Pradana Putra/Republika)

Akhir pekan ini, seluruh umat Islam dipastikan sudah menjalankan ibadah puasa Ramadhan. Hampir seluruh umat Islam yang beriman menjalankan ibadah di bulan penuh berkah ini.Namun, biasanya kita juga melihat ada yang kontras ketika Ramadhan tiba. Masjid-masjid penuh. Bukan untuk beribadah membaca al-Quran, tetapi banyak umat Islam yang berleha-leha, tidur-tiduran menghabiskan waktu siang mereka.


Produktivitas kerja menurun. Nuansa bermalas-malasan kentara. Seakan-akan puasa menjadi legitimasi sebagian dari kita untuk bermalas-malasan dan mengurangi aktivitas sepanjang menjalankan ibadah puasa. Pengurangan aktivitas itu tentu saja berujung pada berkurangnya kreativitas. Jika demikian terjadi maka sungguh disayangkan.

Sepantasnya, Ramadhan menjadi momentum meningkatkan produktivitas dan berkarya, bukan bermalas-malasan.bila dihayati secara mendalam, Ramadhan seperti madrasatun mada al-hayah (madrasah sepanjang hayat) yang berkelanjutan mendidik dan mengedukasi generasi demi generasi setiap tahun. Ramadhan memuat makna-makna iman pada jiwa manusia, mengilhami mereka arti agama yang hanif, dan memantapkan kepribadian Muslim yang hakiki.

Kesempatan Ramadhan yang di dalamnya dijanjikan rahmat (karunia), maghfirah (ampunan), dan itqun min al-nar(pembebasan dari api neraka), sesungguhnya momentum ideal menemukan solusi banyak hal bagi umat. Puasa yang benar dapat membangunkan hati Mukmin yang ‘tertidur’ sehingga merasakan muraqabatullah (perasaan diawasi Allah).

Dalam sejarah Nabi Muhammad SAW, Ramadhan menjadi bulan jihad. Banyak peristiwa bersejarah yang mencatat bahwa Ramadhan menjadi bulan jihad umat Islam. Pada tanggal 17 Ramadhan tahun ke-2 hijriah, umat Islam mengalami perang Badar.

Perang ini terjadi di gurun pasir yang melibatkan 314 muslimin melawan 1000-an orang kafir dari Makkah. Peperangan ini adalah salah tonggak penting dalam sejarah Islam, karena sejak itulah umat Islam memulai era peperangan secara fisik, yang tentunya membutuhkan kemampuan yang lebih berat. Kalau mentalitas mereka seperti umat Islam zaman sekarang yang hobi tidur siang di bulan Ramadhan, tentunya sulit memenangkan peperangan.

Dan kota Mekkah dibebaskan juga pada bulan Ramadhan pada tahun ke-8 hijriah. Rasulullah SAW menyiapkan tidak kurang dari 10 ribu pasukan lengkap dengan senjata yang berjalan dari Madinah dan mengepung kota Makkah. Makkah menyerah tanpa syarat, namun semua diampuni dan dibebaskan.

Pada abad pertengahan atau tahun 15 Hijriah terjadi perang perang Qadisiyyah dimana orang-orang Majusi di Persia (saat ini wilayah Republik Islam Iran) ditumbangkan. Demikiran juga pertama kali Islam menaklukkan Spanyol di bawah pimpinan Thariq bin Ziad dan Musa bin Nushair, juga terjadi di bulan Ramadhan tahun 92 hijriyah. dan sekian banyak kerja keras yang lain, terjadi di bulan Ramadhan.

Ramadhan seharusnya menjadi sarana yang sangat efektif menghadirkan internalisasi nilai kebajikan guna menghadapi berbagai tantangan yang muncul di tengah masyarakat. Ramadhan satu bulan penuh, Muslim di-training oleh SuperTrainer-nya, yaitu Allah SWT, Dzat yang Maha segala-galanya. Tentu hasilnya akan juga luar biasa, bila itu dilakukan dengan penuh keseriusan dan mendamba ridha Allah.

Karena itu, sepantasnya Ramadhan dimanfaatkan secara optimal oleh semua unsur untuk meningkatkan kreatifitas dan karya. Sikap dan kepribadian positif, produktif, empatik, dan menghadirkan keputusan win-win solution adalah sosok pribadi yang lulus secara gemilang dari madrasah Ramadhan yang penuh solusi.

Perlu bagi umat untuk kembali merenungkan ungkapan terakhir dari surat al-Baqarah:183, bahwa yang mewajibkan puasa adalah la’allakum tattaqun dalam kata kerja mudhari yang hendaknya dimaknai agar dapat merealisasikan nilai-nilai muraqabatullah, ketaatan, dan kasih sayang secara terus-menerus, tidak hanya di saat bulan Ramadhan.

Sumber : http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/hikmah/12/07/20/m7fxd9-puasa-ramadhan-mengikis-budaya-malas

Read more...

Tarawih, Bukan Pada Hitungan Rakaat

0 komentar

Tarawih merupakan shalat malam (qiyamul lail) di bulan Ramadhan. Tarawih berasal dari kata raahah yang berarti bersantai setelah empat rakaat.

Artinya shalat ini dapat dikerjakan tidak sekaligus dalam satu rangkaian, namun dapat disela-sela dengan kegiatan lain di luar shalat setelah menyelesaikan empat rakaat, empat rakaat.

Rasulullah SAW tercatat tiga kali melakukan shalat tarawih di masjid yang diikuti oleh para sahabat pada waktu lewat tengah malam. Khawatir shalat tarawih diwajibkan karena makin banyaknya sahabat yang turut berjamaah, pada malam ketiga Rasulullah SAW lalu menarik diri dari shalat tarawih berjamaah dan melakukannya sendiri di rumah.

Pada saat selesai shalat Subuh beberapa hari kemudian beliau menyampaikan konfirmasi, “Sesungguhnya aku tidak khawatir atas yang kalian lakukan pada malam-malam lalu, aku hanya takut jika kegiatan itu (tarawih) diwajibkan yang menyebabkan kalian tidak mampu melakukannya.” (HR. Bukhari).

Pada masa kekhalifahannya, Umar bin Khathab memerintahkan shalat tarawih berjamaah dengan imam Ubay bin Ka’ab sebanyak dua puluh tiga rakaat dan bacaan sekitar 200 ayat, setelah sekian lama para sahabat shalat sendiri-sendiri.

Kegiatan tersebut didasari oleh kemaslahatan bersama akan persatuan dan kesatuan kaum Muslim. Menyaksikan indahnya tarawih berjamaah lewat tengah malam, Umar bin Khathab berkata, "Ini adalah bid'ah yang paling nikmat."

Pada masa khalifah Umar bin Abdul Aziz, kegiatan shalat tarawih ditambah hingga 33 rakaat dengan alasan perbedaan kualitas ibadah kita dengan Rasulullah SAW. Namun, jumlah rakaat tarawih yang terakhir ini hanya masyhur pada zaman itu dan tidak popular hingga zaman kita saat ini.

Perbedaan jumlah rakaat tarawih disebabkan oleh tidak adanya batasan jumlah rakaat saat Rasulullah SAW melakukannya dalam tiga malam itu. Imam As-Syuyuthi menukil pernyataan Imam Al Taj As-Subhi berkata, “Tidak adanya batasan rakaat karena tarawih adalah shalat sunah. Yang mau sedikit (rakaatnya) silakan, yang mau banyak juga dipersilahkan.”

Di banyak negara, kita menjumpai kaum Muslimin melaksanakan shalat tarawih dengan delapan atau dua puluh rakaat. Di banyak masjid Maroko, shalat tarawih dua puluh rakaat dipecah menjadi dua bagian, yaitu setelah shalat Isya dengan delapan rakaat dan satu jam sebelum Subuh dengan dua belas rakaat plus tiga witir.

Di Indonesia, sekitar dua puluh tahun lalu, rakaat tarawih dapat dipakai untuk mengidentifikasi seseorang apakah dia NU atau Muhammadiyah. Jika shalat tarawihnya dua puluh rakaat, kita akan menyatakan bahwa dia NU. Sebaliknya jika delapan rakaat, dengan mudah kita akan mengatakan dia Muhammadiyah.

Namun saat ini, sejalan dengan pendalaman keagamaan masyarakat dan kemudahan mendapatkan akses informasi keagamaan, ukuran tersebut tidak lagi dapat dipakai untuk menentukan ke-NU-an maupun ke-Muhammadiyah-an.

Pasalnya, sudah banyak orang NU yang berpikir simpel, praktis dan ekonomis sehingga memilih delapan rakaat tarawih plus witir. Sebaliknya, banyak orang Muhammadiyah yang melebihi pemikiran ke-Muammadiyah-annya yang tidak hanya mencukupkan diri dengan delapan rakaat, melainkan dua puluh rakaat.

Tarawih adalah shalat sunah yang dapat dilakukan dengan banyak rakaat dan banyak jeda istirahat. Jangankan dipecah menjadi dua kali, lebih dari dua pun tidak masalah asalkan menambah persaudaraan, kebersamaan, kerukunan dan persatuan umat. Maka sesungguhnya tidak ada ruang bagi kita untuk mempersoalkan rakaat shalat tarawih karena ia shalat sunah, apalagi jika dilakukan dengan visi membangun persatuan umat.

Sumber : http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/hikmah/12/07/23/m7lnfa-tarawih-bukan-pada-hitungan-rakaat

Read more...

Merindukan Ramadhan

0 komentar
Merupakan suatu anugerah nikmat yang luar biasa, apabila kita masih diberi kesempatan oleh Allah SWT untuk hidup, beraktivitas, dan beribadah di bulan suci Ramadhan yang penuh dengan keagungan, kemuliaan, dan keberkahan.

Betapa tidak, suasana Ramadhan adalah suasana kebatinan, suasana spiritual, suasana rohani, dan suasana samawi. Wajah-wajah orang yang berpuasa yang penuh dengan keikhlasan adalah wajah-wajah calon ahli surga, insya Allah. Wajah yang menggambarkan ketundukan dan kepatuhan pada aturan Allah SWT.

Siap melaksanakan perintah-Nya dan siap pula bersegera meninggalkan segala yang dilarang-Nya. Sikapnya hanya satu “sami’na wa atho’na” (kami mendengar dan kami siap melaksanakan).

Allah SWT berfirman dalam QS An-Nur [24] ayat 51-52: ”Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya agar rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan. ‘Kami mendengar dan kami patuh.’ Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.”

“Dan barangsiapa yang taat kepada Allah dan rasul-Nya dan takut kepada Allah dan bertakwa kepada-Nya, maka mereka adalah orang-orang yang mendapat kemenangan.” (QS An-Nur [24]: 51-52).

Ramadhan 1433 H ini menjadi momentum bagi kita untuk meningkatkan amal ibadah sekaligus menumpahkan kerinduan akan kedatangan Ramadhan. Ramadhan merupakan tamu agung, istimewa, dan mulia. Kedatangannya senantiasa memberikan rasa damai, indah, dan kebahagiaan.

Kami rindu untuk segera bertemu denganmu. Rindu karena Ramadhan adalah bulan pendidikan dan training untuk menjadikan kita semua orang-orang yang semakin meningkat ketakwaannya.

”Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS Al-Baqarah [2]: 183). Takwa adalah indikator utama kemuliaan seseorang dan suatu bangsa (QS Al-Hujurat [49] ayat 13), sekaligus indikator yang akan mengundang turunnya keberkahan dari langit dan munculnya keberkahan dari bumi.

Perhatikan firman-Nya dalam QS Al-A’raf [7] ayat 96: ”Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.”

Mari kita persiapkan mental, fisik, dan ilmu pengetahuan untuk mengisi bulan suci Ramadhan 1433 H dengan penuh kerinduan dan kekhusyukan dalam mencari keridaan Allah. Kita isi hari-harinya dengan ibadah-ibadah yang dianjurkan, seperti membaca Alquran, berzikir, memperbanyak shalat sunah, dan bersedekah.

“Barangsiapa yang melaksanakan shalat pada bulan Ramadhan dengan penuh keikhlasan dan keimanan, serta mengharapkan ridha Allah, niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR Bukhari). Semoga Allah SWT senantiasa menerima segala amal ibadah kita. Amin. Wallahu a’lam bi ash-shawab.

Sumber : http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/hikmah/12/07/25/m7pf8i-merindukan-ramadhan

Read more...

Minggu, 22 Juli 2012

Salam Ramadhan 1433

0 komentar
Read more...

Rabu, 04 Juli 2012

0 komentar
Read more...

Sabtu, 30 Juni 2012

Haflah Akhirsanah Dan Temu Kangen Alumni

0 komentar
Read more...

Rabu, 20 Juni 2012

Gus War: Irjen Untung S Radjab Dekat Kiai NU

0 komentar

Kediri (beritajatim.com)--Nama mantan Kapolda Jatim yang sekarang menjabat Kapolda Metro Jaya Irjen Pol Untung S Radjab dan kini mulai santer maju pemilu gubernur (Pilgub) Jatim disambut baik Pimpinan Pondok Pesantren (Ponpes) Al-Amin, Ngasinan, Kota Kediri, KH Anwar Iskandar.

Menurut Gus War, begitu sapaan akrabnya, Untung S Radjab merupakan figur pemimpin religius dan dekat dengan para ulama, kiai dari sejumlah ponpes khususnya, di wilayah Kediri. "Beliau figur yang religius atau ibadahnya baik, senang dengan Al-Qur an dan memiliki prinsip. Tidak gampang seseorang yang memiliki prinsip. Dialah Kapolda yang terang-terangan menolak konser Lady Gaga di Indonesia," ujar Gus War kepada beritajatim.com, Rabu (20/06/2012).

Untung S Radjab, imbuh Gus War, sudah lama 'awor' alias bersama-sama dengan kiai di Kediri. Mulai dari ikut serta dalam kegiatan semaan Al-qur 'an dan kegiatan-kegiatan keagaaman lainnya. Dia pernah nyantri di Al-Falah Ploso, Kecamatan Mojo, Kabupaten Kediri, sebelasan tahun.

"Selama 14 tahun beliau mondok di Ploso. Beliau sebagai santri dari Gus Miek," imbuh Gus War. Gus Miek atau KH Hamim Tohari Djazuli adalah salah satu putra dari KH. Ahmad Djazuli Usman, pendiri Ponpes Al-Falah, Kecamatan Mojo, Kabupaten Kediri. Gus Miek telah wafat dan dimakamkan di Dusun Tambak, Desa Tambi, Kecamatan Mojo.

Gus Miek dikenal sebagai aulia dan makamnya banyak dikunjungi para peziarah. Setiap malam Jumat Kliwon selalu digelar acara Dzikrul Ghofilin Akbar di sana.

Sosok Untung Radjab yang religius, senang dengan Al-qur an, dan berprinsip, menurut Gus War, menjadi magnet tersendiri bagi para kiai-kiai di Kediri. Ia mengaku, sering bertemu dengan Untung Radjab, tetapi pada acara-acara tertentu dengan sesama kiai lainnya.

Ditanya mengenai wacana majunya Untung Radjab berpasangan dengan Hasan Aminuddin (Bupati Probolinggo/Ketua Ormas Nasional Demokrat Jatim/Ketua Dewan Pembina DPW Partai NasDem Jatim), Gus War mengaku, belum pernah tahu. Mengingat, dalam berbagai pertemuan, kata Gus War, Untung tidak pernah mengutarakan niat untuk maju Pilgub Jatim.

"Beliau memang sering bertemu dengan para kiai karena memiliki hubungan pribadi dan emosial dengan para kiai. Tetapi mengenai wacana beliau maju Pilgub, saya baru dengar dari njenengan ini. Dan lagi itu baru sekadar wacana, KPU (Komisi Pemilihan Umum) juga belum menentukan formaturnya secara paten," terangnya.

Menurut Gus War, apabila benar-benar maju, tentunya Untung S Radjab harus memiliki kendaraan politik (partai politik). " Beliau sepertinya belum memiliki kendaraan. Partai-partai besar tentu akan mengusung calon-calonnya sendiri. Kalau maju lewat partai kecil, saya rasa jangan, kasihan Pak Untung," saran Gus War.

Gus War memiliki harapan yang besar kepada Gubernur Jawa Timur, ke depan untuk lebih memperhatikan pendidikan keagamaan dan kemajuan pondok pesantren. Harapan tersebut, katanya, bukan hanya berasal dari dirinya pribadi, tetapi juga kalangan kiai pengasuh pondok pesantren di Jawa Timur.

"Di Jawa Timur ini, mayoritas adalah warga NU (Nahdlatul Ulama dan banyak berdiri pondok pesantren). Mestinya arah kemakmuran ke sana. Harapan dari kiai yang selalu ngaji dan disiarkan secara langsung Doho TV, televisi lokal Kediri ini," katanya.

Ditanya mengenai perhatian Soekarwo dan Saifullah Yusuf selama menjabat sebagai Gubernur-Wakil Gubernur Jatim kepada pendidikan agama dan pondok pesantren, menurut Gus War, masih kurang. Kendati demikian, Pakde Karwo dan Gus Ipul dinilai sebagai sosok pemimpin yang sukses memajukan kesejahteraan masyarakat umum. "Kepemimpinan Pak Karwo sangat bagus sekali. Parameternya bisa dilihat dari tiga hal pertama, stabilitas Jatim yang bagus, sehingga para pengusaha bisa menyelenggarakan ekonomi dengan baik. Kemudian, kedua dari sudut minat investor di Jatim, itu menunjukkan bahwa indikator di Jatim kondusif dan yang ketiga pelayanan masyarakat meningkat, khususnya kepada pondok pesantren. Walaupun itu belum merata, tetapi ada peningkatan dari tahun lalu," urai Gus War.

Program Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Timur selama pemerintahan Soekarwo dan Saifullah Yusuf yang konsen terhadap dunia pesantren adalah alokasi dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) untuk sekolah diniyah. Dana itu diberikan kepada guru-guru, pengajar. Nilai antara Rp 50-100 ribu setiap pengajar per bulan. Menurut Gus War, alokasi anggaran itu masih belum optimal.

"Kami menyadari keterbatasan kemampuan pemerintah. Saya rasa memang harus ada payung hukum, sebagai landasan dasar. Nah, DPRD (Dewan Perwakilan Rakyat Daerah) lah yang seharusnya bisa membuat peraturan daerah (perda) sebagai payung hukum. Sehingga, perhatian untuk pondok pesantren bisa optimal. Namun, adakah kemampuan politik dari DPRD untuk membuat perda tersebut," pungkas Gus War. [air/war]
Sumber : http://www.beritajatim.com/detailnews.php/6/Politik_&_Pemerintahan/2012-06-20/139053/Gus_War:_Irjen_Untung_S_Radjab_Dekat_Kiai_NU_
Read more...